Pelatihan PM-KKA Bawa Perubahan ke Ruang Kelas, Guru Hadirkan Pembelajaran yang Lebih Hidup

Selasa, 14 Juli 2026 | 15:13:24 WIB

JAKARTA,populisnews.com - Ruang-ruang kelas di berbagai sekolah mulai menunjukkan wajah baru. Jika sebelumnya proses belajar identik dengan guru yang menyampaikan materi dan murid yang mendengarkan, kini suasana pembelajaran menjadi lebih dinamis. Murid diajak berpikir, berdiskusi, bereksplorasi, dan menghubungkan pelajaran dengan pengalaman yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan tersebut dirasakan para guru setelah mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial (PM-KKA) yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Salah satu guru yang merasakan manfaat nyata dari pelatihan ini adalah Tri Oktinawati, guru TKIT SD Insan Madani. Menurutnya, PM-KKA membuka perspektif baru tentang proses belajar yang tidak sekadar membuat anak aktif, tetapi juga membantu mereka memahami makna dari setiap pembelajaran.

“Sekarang pembelajaran lebih terhubung dengan kehidupan anak. Mereka tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami mengapa hal itu penting,” ujarnya.

Tri mencontohkan bagaimana pendekatan pembelajaran mendalam diterapkan saat mengenalkan konsep numerasi kepada murid taman kanak-kanak. Jika sebelumnya anak-anak hanya diminta menghitung jumlah daun bayam, kini kegiatan tersebut dikaitkan dengan tema yang sedang dipelajari sekaligus memberikan pemahaman tentang manfaat bayam bagi kesehatan.

“Anak-anak tidak hanya belajar menghitung. Mereka juga mengenal bahwa bayam baik untuk tubuh karena mengandung zat besi. Jadi pembelajarannya lebih menyeluruh dan bermakna,” jelasnya.

Ia menambahkan, materi PM-KKA untuk jenjang usia dini juga mengenalkan cara berpikir komputasional melalui konsep dekomposisi, pengenalan pola, dan abstraksi. Menariknya, pendekatan tersebut tidak bergantung pada komputer atau gawai sehingga dapat membantu mengurangi waktu anak berinteraksi dengan layar.

Pengalaman serupa dirasakan Muhammad Jiyad Prawira, guru SDN Batu Ampar 01 Jakarta Timur. Ia menilai pendekatan Pembelajaran Mendalam mampu menghidupkan suasana kelas karena materi pelajaran dikaitkan dengan lingkungan dan budaya yang akrab dengan kehidupan murid.

“Anak-anak jadi lebih antusias karena mereka merasa pelajaran itu dekat dengan keseharian mereka. Saya menghubungkan budaya lokal dengan matematika dan mata pelajaran lainnya, sehingga mereka lebih mudah memahami materi,” ungkap Jiyad.

Menurutnya, ketika murid dapat melihat hubungan antara teori dan realitas di sekitar mereka, proses belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus efektif.

Kisah Tri dan Jiyad menjadi gambaran awal bagaimana pendekatan Pembelajaran Mendalam mulai diterapkan di ruang-ruang kelas. Untuk memperluas dampak tersebut, Kemendikdasmen menghadirkan Pelatihan Mandiri PM-KKA yang memungkinkan guru di seluruh Indonesia meningkatkan kompetensi secara lebih fleksibel.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan pengembangan dari program yang telah berjalan sejak tahun 2025. Pada tahun 2026, berbagai materi dan pendekatan pelatihan disempurnakan agar semakin sesuai dengan kebutuhan guru di lapangan.

“Tahun ini terdapat penambahan modul. Selain pelatihan luring melalui KKG, MGMP, MKKS, dan Hari Belajar Guru, kami juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi guru untuk mengikuti pelatihan secara mandiri,” kata Nunuk usai peluncuran Pelatihan Mandiri PM-KKA di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan, penyempurnaan pelatihan dilakukan melalui pendekatan Teacher Experimental Training (TET), yang menjadikan sekolah sebagai laboratorium pembelajaran. Dalam skema ini, guru tidak hanya menerima materi pelatihan, tetapi langsung menerapkannya di kelas, kemudian melakukan refleksi dan berbagi pengalaman bersama rekan sejawat melalui forum KKG maupun MGMP.

“Dengan cara ini, guru dapat belajar dari praktik nyata, mendiskusikan tantangan yang dihadapi, sekaligus menemukan solusi bersama,” ujarnya.

Nunuk menambahkan bahwa implementasi pelatihan juga disesuaikan dengan karakteristik setiap mata pelajaran sehingga guru dapat saling bertukar pengalaman dan praktik baik sesuai bidang yang diampu.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Pembelajaran Mendalam menempatkan guru sebagai fasilitator yang aktif mendampingi murid dalam setiap tahapan belajar melalui pendekatan 3P, yakni Presage, Process, dan Product.

“Guru tetap berperan aktif sebagai fasilitator. Murid diberi ruang untuk menceritakan pengalaman, berdiskusi, dan membangun keterlibatan yang kuat dalam proses belajar,” jelas Abdul Mu’ti.

Menurutnya, pendekatan Pembelajaran Mendalam akan diterapkan pada seluruh mata pelajaran dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing. Karena itu, pelatihan diberikan kepada seluruh guru agar penerapannya di kelas dapat berlangsung lebih kontekstual dan efektif.

Melalui PM-KKA, pemerintah berharap transformasi pembelajaran tidak hanya terjadi pada metode mengajar, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang lebih kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(*)

Terkini